Mendongeng, Trik Orang Tua Menyampaikan Pesan Moral

“Harusnya gajah mau berbagi makanan dengan semut, padahal melon itukan punya semut” komentar Saffira, anak usia PAUD yang akau dongengkan kisah Si Gajah yang Tamak dan Semut yang Cerdik.

Sebagai seorang pendamping yang mendorong pemanfaatan media dongeng dalam merangsang perkembangan anak sejak dini, saya pun juga perlu menerapkannya kepada anak saya sendiri. Malam itu, Kamis 7 April 2016, kedua anakku yang memang masih berusia balita susah untuk tidur. Tanpa pikir panjang sang ayahpun beraksi bak pendongeng handal. Ilmu-ilmu mendongeng dari Kak nasyir, pendongeng asal Solo yang saya ikuti seminarnya beberapa waktu yang lalu. Kedua anak saya begitu nyaman, sang adik terlihat mulai nyaman dibantalnya dan sang kakak sesekali berkomentar. Akhirnya mereka tidur terlelap, sampai lupa tidak minta susu botol seperti biasanya.

Mendongeng sebagai media yang menyenangkan untuk menstransfer pembelajaran moral kepada anak saya rasakan betul. Apalagi bagi AUD (anak usia dini) yang sedang mengalami pertumbuhan baik fisik maupun non fisik. Pada masa usia dini, perkembangan dan pertumbuhan anak terjadi sangat cepat. Hasil studi dibidang neurologi mengetengahkan bahwa perkembangan kognitif anak telah mencapai 50% ketika anak berusia 4 tahun, 80% ketika anak berusia 8 tahun, dan genap 100% ketika anak berusia 18 tahun (Osborn, White, dan Bloom). Hal ini dapat dimaknai usia yang sangat berharga dibanding usia berikutnya. Masa usia dini juga merupakan pondasi sikap dan watak anak itu sendiri untuk ke depannya. Maka sebagai orang tua, harus benar-benar mampu mentransformasi pengetahuan dan nilai yang baik untuk anaknya.

Di era keterbukaan ini perlu memberikan pendidikan kepada anak dengan cara yang tepat. Pendidikan tidak hanya transfer pengetahuan dan keterampilan tapi juga tata nilai dan sikap. Salah satunya dengan menanamkan nilai- nilai moral kepada anak. Mendongeng adalah salah satu media  yang ramah untuk melakukanya. Anak akan lebih mendengar dan meresapi apa yang disampaikan oleh orang tuanya disaat yang santai dan menyenangkan dari pada saat pendidik atau orang tua marah-marah dengan nada yang keras saat anak melakukan kesalahan.

Mendongeng disaat pengantar tidur anak, bisa disisipi cerita nasehat yang mengambarkan perilaku yang baik akan mendapatkan balasan yang menyenangkan dan perilaku yang jahat akan mendapatkan balasan yang menyakitkan. Misalnya bunda atau yahnda bisa menceritakan dongeng si gajah yang tamak dan semut yang cerdik, dongeng malin kundang atau dongeng bawang merah dan bawang putih. Diakhir cerita ajak anak untuk mengambil nilai moral yang didapat dari cerita yang di dongengkan dan sikap apa yang perlu dilakukan atas pesan moral tersebut.

Advertisements
By YSKK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s