Semangat Pendidik PAUD Cerminkan Semangat Kartini di Masa Kini

Tanggal 21 April adalah tanggal kelahiran seorang pahlawan wanita yang bernama Raden Ajeng Kartini. Pahlawan bangsa yang memperjuangkan hak kaum wanita agar memperoleh pendidikan. Beliau berjuang dengan mendirikan sekolah bagi kaum wanita.

Sejalan dengan semangat Kartini yang ingin mencerdaskan bangsanya melalui pendidikan, semangat itupun juga tercermin pada diri para pendidik PAUD di Kecamatan Weru. Mereka berjuang membuka akses pendidikan bagi anak-anak generasi penerus bangsa yang ada di sekitar mereka. Mereka berjuang mendirikan PAUD sebagai sarana untuk menstimulasi tumbuh kembang anak di usia emasnya.

Para pendidik tak kenal lelah berjuang dengan hati, waktu dan pemikirannya demi terpenuhinya pendidikan bagi anak usia dini. Para pendidik menjadi garda terdepan dalam proses pendidikan yang bersentuhan langsung dengan anak-anak. Mendidik dengan penuh semangat, keceriaan dan keramahan. Menjadi sosok ceria ketika bermain bersama anak. Menjadi teman bicara yang ramah bagi anak. Serta menjadi sosok motivator yang senantiasa menyemangati hati anak-anak didiknya.

YSKK yang hadir mendampingi 10 PAUD di Kecamatan Weru melihat begitu besar semangat dan kepedulian sosial para pendidik PAUD ini. Total ada 27 orang pendidik di 10 PAUD tersebut. Sebagian besar pendidik tersebut dulunya merupakan kader perempuan yang aktif di desa baik sebagai kader Posyandu, kader PKK, maupun kader Bina Keluarga Balita. Mereka terpanggil untuk membuka akses pendidikan anak usia dini di desanya. Memberanikan diri untuk mengambil peran sebagai seorang Pendidik PAUD.

Pengorbanan secara materiil pun sudah menjadi hal yang biasa bagi para pendidik.  Honor pendidik PAUD yang tidak besar jumlahnya pun disikapi dengan bijak. Keiklasan dan jiwa kesukarelawanan yang tak diragukan selama menjadi kader desa, meneguhkan hati mereka untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak penerus bangsa yang ada disekitar mereka.

“Saya menjadi pendidik PAUD karena suka dengan dunia anak-anak… ingin berbagi ilmu dan mencerdaskan anak-anak disekitar kita… Walaupun saya sadar tidak bisa mendapatkan materi lebih  dari sini, namun saya tetap semangat dan yakin rezeki akan datang dari manapun jalannya” ungkap Bunda Rida Panca Rahmawati salah satu pendidik PAUD Taman Pintar Candi Asri yang dulunya seorang kader Posyandu di dusun Candi Desa Ngreco Kecamatan Weru.

Tantanganpun mengiringi perjuangan sang bunda pendidik PAUD.  Mulai dari belum sampainya jangkauan informasi mengenai pentingnya PAUD kepada banyak orang tua  di Kecamatan Weru. Hal ini  membuat banyak orangtua belum tergerak untuk mengikutkan anaknya di PAUD. Kondisi inilah yang mendorong para pendidik untuk mensosialisasikan pentingnya PAUD kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan dalam berbagai kesempatan mulai di kegiatan posyandu, melalui sarasehan warga hingga berkunjung dari rumah ke rumah.

Tantangan lain yang ditemui yaitu kondisi georgafis Weru yang berbukit-bukit tak menyurutkan semangat mereka. Strategi yang dilakukan agar anak-anak yang jauh dari jangkauan PAUD tetap tersetimulus tumbuh kembangnya yaitu dengan mengadakan program PAUD Kunjungan. Hal ini dilakukan untuk mengupayakan pemerataan pendidikan bagi anak usia dini.

Berbagai tantangan yang dihadapi oleh para Pendidik PAUD di Kecamatan Weru tak menyurutkan perjuangan mereka. Mereka tetap teguh dan bersemangat untuk mengemban amanah sebagai pejuang pendidikan. Berjuang bagi anak-anak, untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik di usia emasnya. Berjuang menghantarkan agar lebih dekat dengan cita-citanya. Seperti semangat kartini yang ingin mencerdaskan bangsanya, para pendidik juga bersemangat untuk membawa generasi penerus bangsa ke masa depan yang lebih baik.

 

Pentingnya Peran Orangtua dalam Pendidikan Anak

 

parenting

Kegiatan Parenting Education di PAUD Aisyiyah Desa Karakan Kecamatan Weru mengangkat tema “Peran Orangtua dalam Pendidikan Anak”

 

 

“Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu dan bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan seikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas”  Ki Hadjar Dewantara*

Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pendidikan anak. Di lingkungan keluarga, orangtua adalah seorang guru bagi anaknya. Sebagai pendidik di rumah, orangtua diharapkan dapat berperan menjadi teladan yang baik bagi anak, teman yangmenyenangkan ketika bermain dan teman bicara yang ramah bagi anak. Tapi tak semua orangtua paham akan perannya tersebut. Tak sedikit orangtua yang memandang pendidikan seorang anak hanya diamanahkan kepada institusi sekolah saja. Untuk membangun kesadaran pentingnya peran orangtua dalam pendidikan anak. Pada Kamis, 13 April 2017 yang lalu PAUD Aisyiyah Desa Karakan Kecamatan Weru menggelar parenting education dengan tema “ Peran Orangtua dalam Pendidikan Anak” yang diikuti oleh 41 orangtua.

Menurut Ki Hajar Dewantara ada tiga sentra pendidikan yaitu pendidikan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Setiap elemen yang ada di tiga sentra tersebut perlu membangun kesinambungan untuk pendidikan anak. Termasuk didalamnya antara orang tua dan guru perlu membangun komunikasi, kekompakan dan kerjasama demi pendidikan anak yang berkesinambungan di lingkungan  sekolah dan lingkungan rumah.

Di jenjang pendidikan anak usia dini, durasi waktu orangtua bersama anak di lingkungan rumah tentulah lebih lama dibandingkan waktu di sekolah. Orangtua  punya peran penting dalam menjaga kesinambungan pelajaran baik yang didapatkan dari guru di sekolah untuk dapat dilanjutkan di rumah. Karena hal baik seperti mencuci tangan, berdoa dan perilaku sopan santun perlu dipraktekkan secara berkelanjutan, terus menerus dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan baik bagi anak.

Dalam kegiatan parenting education ini fasilitator memutarkan film singkat yang menceritakan seorang anak yang ingin menjadi seperti smartphone. Film tersebut menjadi pemantik diskusi dengan para orangtua mengenai harapan seorang anak terhadap orangtuanya. Ada tiga hal yang muncul mengenai peran orangtua yaitu orangtua berperan menjadi pendidik bagi anak, orangtua menjadi teman yang menyenangkan ketika bermain dengan anak dan orangtua menjadi teman bicara yang ramah bagi anak.

Orangtua merupakan pendidik bagi anak di keluarga. Orangtua tak hanya mendidik dengan ilmu, namun juga mendidik dengan memberikan teladan yang baik bagi anak. Anak adalah peniru yang ulung, segala hal yang ada disekitarnya begitu cermat dilihatnya dan seakan menjadi contoh untuk ditiru oleh sang anak. Termasuk pada perilaku yang ditampilkan oleh orangtuanya. Orangtua sebagai teladan bagi anaknya perlu menjadi pribadi yang baik, sehingga dapat dicontoh perilakunya oleh anak.  Mulai dari cara berpakaian, berbicara, beribadah hingga berperilaku sehari-hari.

Orangtua juga diharapkan menjadi teman bermain bagi anak. Dunia bermain adalah dunia anak-anak. Setiap anak mendambakan dapat bermain dengan riang dan penuh suasana yang menyenangkan. Sempatkan waktu bagi orangtua untuk dapat bermain bersama dengan anak. Banyak ragam permainan yang dapat dimainkan dengan anak mulai dari permainan indoor dan outdoor. Ajak anak bermain dengan permainan yang menyenangkan dan bisa menstimulus tumbuh kembangnya. Sesekali ajak anak bermain mulai dari membuat mainannya, memainkannya bersama dan membereskan mainannya. Selain memberikan kegembiraan pada anak, anak juga dapat semakin kreatif dan bertanggungjawab terhadap mainannya.

Orangtua juga perlu menjadi teman bicara yang ramah bagi anak. Menjadi teman bicara bagi anak perlu dilakukan agar kita bisa mendengar pendapat dan perasaan anak, sekaligus menanamkan pesan moral kepada anak. Untuk menjadi teman bicara yang ramah perlu strategi yang tepat, salah satunya dengan dongeng. Dengan dongeng anak lebih nyaman mendengarkan setiap pesan yang disampaikan oleh orangtuanya. Setelah mendongeng sempatkan menggali pendapat anak dan perasaan anak terkait dengan cerita yang didongengkan. Hal ini untuk menanamkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita kepada anak.

Menjadi orangtua yang ramah kepada anaknya tentu tak hanya sekedar butuh pengetahuan saja. Namun juga butuh niat dan komitmen yang kuat untuk melakukannya. Orangtua harus berkomitmen kepada dirinya sendiri dan kepada anaknya untuk bisa menjadi seseorang yang ramah, menyenangkan dan teladan yang baik bagi anak-anaknya.

 

Keterangan:

*: kutipan dipetik dari Buku Anak Bukan Kertas Kosong karya Bukik Setiawan. Halaman xxv

PERTEMUAN KONSULTATIF: Peningkatan Kualitas Layanan Pos PAUD

Pertemuan Konsultatif di hadiri oleh 11 Pos PAUD dan Posyandu

Pertemuan Konsultatif di hadiri oleh 11 Pos PAUD dan Posyandu

Kegiatan yang dihadiri oleh 11 dari Posyandu dan Pos PAUD di Kecamatan Weru ini diawali dengan pengantar terkait latar belakang tujuan, keluaran yang diharapkan  serta alur proses kegiatan Pertemuan Konsultatif yang disampaikan oleh Mbak Lusi.

Sesi kedua yaitu Pengalaman Pengelolaan Pos PAUD, saya selaku fasilitator di sesi ini mengawalinya dengan membacakan sebuah puisi kepada peserta yang kebanyakan dari unsure kader dan pendidik Pos PAUD/ Posyandu yang sebagian besar adalah Ibu-Ibu. Fasilitator membacakan puisi yang berjudul “Serangkai Cinta Untuk Bunda”, adapun isinya :

          Serangkai Cinta untuk Bunda

Ibu,  lembut jemarimu  hapus peluh lelahku

Dekapan hangatmu tentramkan kegelisahan hatiku

Tegarnya bahumu  hentikan tangis kesedihanku

Ibu, hadirmu cerahkan hidupku

Tutur katamu, tuntun langkah kakiku

Dan  untaian  semangat darimu

mengantarkanku  raih cita-citaku

Ibu, engkau sematkan kasih  dalam perjuanganmu

Perjuangkan anak dan kaummu

Arungi zaman  persembahkan kebahagiaan

Merajut harapan  dengan ilmu dan kecintaan

Ibu,  Kasih sayangmu tak kan berhenti  di sepanjang kehidupanku

Ibu,  maafkan daku,  Anak yang terkadang mengecewakan hatimu

Bakti seumur hidupku tak kan bisa menukar  jasa dan pengorbananmu

Ibu, aku ingin membahagiakanmu…

Persembahkan kebanggaan

Terimakasih Ibu,  aku sayang Ibu…….

“…… wah saya sampai mrinding mas” komentar salah satu peserta setelah mendengarkan puisi tersebut. Puisi tersebut saya bacakan untuk salam pembuka dari fasilitator untuk memberikan apresiasi kepada para ibu, para pendidik, para kader Pos PAUD/ Posyandu yang telah memberikan daya dan upayanya demi terangnya masa depan anak Indonesia.

Memasuki agenda ini, yaitu sharing pengalaman terbaik, tantangan yang dihadapi dan juga masukan/input terkait dengan pengelolaan Pos PAUD di 12 Pos PAUD/ Posyandu dampingan YSKK. Dari 12 Pos PAUD/ Posyandu yang diundang 11 hadir dalam pertemuan ini, oleh karena itu peserta diminta untuk berdiskusi berdasarkan Pos PAUD/ Posyandunya masing- masing. Dari diskusi ini diperoleh informasi dan data terkait dengan: Sudah terselenggarakah Pos PAUD? ; Penyelenggaraan dibawah siapa? ; Berapa Kali sebulan ? ; Jumlah anak yang mengikuti ? ; Proses/Aktivitas kegiatannya seperti apa? ; Siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan Pos PAUD dan perannya seperti apa? Kendala/tantangan yang dihadapi?

Dalam sesi ini setiap Pos PAUD memaparkan hasil diskusinya lalu, dalam diskusi ada input baik dari fasilitator YSKK dan peserta yang memiliki pengalaman yang sama, khusunya focus pada tantangan yang dihadapi. Setelah semua Pos PAUD/ Posyandu mendapatkan input atau tanggapan terkait tantangan yang dihadapi, fasilitator dari YSKK, terkait beberapa kendala/tantangan yang dihadapi memang menuntut partisipasi segala pihak agar mengambil peran di dalam penyelenggaraan Pos PAUD dan dikuatkan kembali terkait dengan prinsip penyelenggaraan Pos PAUD yang Berbasis pada Masyarakat.

Sesi ketiga membahas menganai harapan dan langkah-langkah untuk mewujudkannya dari setiap Pos Paud dan Posyandu selama 3 bulan kedepan, mbak Lusi selaku fasilitator meminta kepada setiap Pos PAUD/ Posyandu untuk menyusun harapan selama 3 bulan kedepan dan langkah-langkah apa yang dilakukan untuk meraih harapan tersebut. Pada sesi ini 9 dari 11 Pos PAUD/ Posyandu yang datang telah menyusun harapan 3 bulan kedepan dan langkah-langkah yang direncanakan untuk mencapainya. (adapun hasil lengkapnya tertuang dalam rekaman proses pelaksanaan kegiatan Pertemuan Konsultatif: Peningkatan Kualitas Layanan POS PAUD)

setelah Pertemuan Konsultatif  berakhir, pendamping berkunjung ke rumah Bapak Yatin untuk berkoordinasi terkait dengan rekrutmen pendidik baru di TP Permata Hati dan perkembangan unit usaha yang saat ini sedang dikerjakan. Terkait dengan pendidik baru sudah ada yang sudah mendaftar 2 orang, kemungkinan akan ditarik semua, hal ini karena salah satu pendidik menjabat di kepengurusan Himpaudi yang sering tersita waktunya untuk mengajar. namun yang menjadi perhatian adalah anggaran untuk honor pendidiknya serta perlu pula untuk melihat kapasitas pendaftarnya. terkait dengan unit usaha satu kambing telah terjual, untuk saat ini harga bibit kambing masih tinggi dan masih belum berani beli, sempat koordinasi terkait dengan ide dari mbak lusi untuk usaha amrah barang/hewan masih menjadi pertimbangan dari pengurus.